Kirana, Aku Bilang"... Aku Takut




Silahkan duduk ... minum? ... Dingin atau panas? Ah apa bedanya, Lama tidak jumpa. Nona, anda masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Saya senang. Memang, meski masa lalu kadang kala menentukan masa depan kita, tetapi semuanya tidak perlu merubah, bukan?

Apa ... Oh, Itu adalah foto saya, disampingnya foto adik kedua saya. Saya adalah anak ketiga dari lima bersaudara tetapi kakak saya yang kedua meninggal ketika kecil. Eh ... bukankah nona sudah tahu perihal itu. Buat apa saya mengajarkan berenang pada ikan, lebih baik kuberi tahu warna air. Wah jadi ngelantur, baiklah ... sebagai tuan rumah yang baik. Tentu bukan maksud mengusir, tetapi saya akhirnya mesti bertanya kepada anda nona; apa keperluan anda sampai datang kemari. Secara anda yang sangat sibuk sekali ... saya sangat tersanjung anda mengunjungi gubuk saya ini.
Maaf ... apakah pertanyaan saya itu menyinggung perasaan anda nona. Anda tersenyum berarti tidak ada yang perlu saya khawatirkan. Bagaimana anda bisa menemukan tempat tinggal saya ini ... dari teman saya, siapa? Fiqra? Oh dia ... memang, dia orangnya sedikit aneh! Biasa atribut seorang yang bergulat seni dan pemikiran selalu aneh dan absurd. Kadang tak tertebak, tetapi kalau sudah kenal ... dia baik sekali. Kenapa nona, sepertinya anda kesulitan untuk mengatakan keperluan anda? tenang ucapkanlah... Saya masih percaya bahwa kejujuran berbanding lurus dengan kebenaran. Sebaliknya kemunafikan adalah kawan akrab kebohongan. Kalau kita tak jujur, selamanya kebijaksanaan berada di pemakaman. Nona tahu maksud saya bukan? Kebijaksanaan akan mati! kalau kita tidak jujur, bukankah dalam agama kita juga diajarkan tentang kejujuran. Berkatalah yang haq meskipun itu pahit. Tetapi kadang kala tidak baik untuk terus jujur, some words are better unspoken and some feelings are better remain unsaid.

Saya jadi menceramahi, tetapi itu kenyataan nona. Dan untuk berkata jujur memerlukan keberanian seorang bangsawan! Nona tidak percaya? Orang jujur sekarang sulit didapatkan, apalagi dengan kondisi zaman edan sekarang ini ... semuanya serba mudah dan instan hal ini imbas dari paham komoditasnya Marx ... mungkin. Bahkan saya juga sempat miris ketika kejujuran dijadikan komoditi. Anda kelihatan tidak setuju? Begini maksud saya, orang sengaja berbuat jujur hanya untuk mendapat keuntungan! Kenapa nona, apakah salah berbuat sesuatu untuk mendapat keuntungan? Hemat saya sih, nggak salah juga. Tapi masa iya kejujuran dijadikan modal untuk mendapatkan uang, akhirnya 'kan jadi pragmatis. Bukan .. bukan artinya saya memusuhi paham pragmatisme, tetapi bukankah dalam agama kita ada yang dinamakan dengan konsep ikhlas.

Anda tahu sendiri bukan ... entah nona mengartikan ikhlas itu apa? Yang jelas saya memaknai bahwa ikhlas itu pada dasarnya adalah berbuat sesuatu tanpa mengharapkan imbalan apapun dari siapapun. Pahala? Iya juga sih, anda benar nona ... Sebenarnya kita tidak bisa melepaskan dari paham pragmatisme sebab dalam ikhlas juga, diam-diam kita sudah menganut pragmatisme. Kita ikhlas karena pengen dapat pahala.

Saya jadi bingung ... anda kesini mau membicarakan tentang konsep ikhlas dengan saya atau ada sesuatu yang lain. Jangan tersenyum begitu? Saya jadi nggak enak melihatnya ... oh iya bagaimana keadaan keluarga nona? Syukurlah kalau baik-baik saja. Diminum lagi tehnya, ayo anggap saja rumah sendiri. Dijual? Jangan dong! Selera humor anda tinggi juga nona.

Iya saya mendengarkan nona ... silahkah bicara. Tapi sebentar, boleh minta bantuan ... tolong pintunya sedikit dirapatkan, cahayanya menyilaukan mata saya ... Nah cukup, cukup terimakasih. Lanjutkan nona. Ehm ... mengenai itu ya .... bukankah dia juga teman nona. Asalnya itu dari mana ya ... saya lupa lagi. Lampung? Oh iya ... benar dia dari lampung. Bagaimana keadaannya sekarang?

Memang ... apa yang belum nona ketahui? Nona meminta saya untuk menceritakannya dari awal sampai akhir? Ehm ... baiklah ... Kita akan memulai cerita ini dari mana ya. Saya perlu mengumpulkan ingatan saya kembali. Ya ... santailah, anggap rumah sendiri. Anda kelihatan kaku begitu . Baik-baik saja bukan? Ok. Kita mulai.

Ehm ... Kirana Maharani, Kirana Maharani, Kirana Maharani ... ya nama itu terus kusenandungkan nona. Meski tanpa kodrat referensi sesosok jasad dan tubuh. Tak menjisim. Tak berbentuk! hanya suara yang terus terngiang dalam benak dan lubuk. Kusebut namanya, terus kusebut-sebut hingga mulut kalang kabut bergelut. Kata-kata berlaut saling pagut. Meski hati suntuk diberi paham manggut-manggut. Seperti dukun, saya mengucap namanya berulang-ulang kali. Namanya adalah mantra-mantra, jampi-jampi, isim-isim ... menjemput aura mistis.

Mulutku komat-kamit tak keruan!

Namun, akhirnya harus saya sadari juga bahwa ia telah memutuskan untuk pergi ... kemana? Anda tanya dia pergi kemana? Entahlah ... yang kutahu hanyalah dia tak akan kembali. Padahal jauh dalam sukma aku ingin tetap dia berada disini. Mengabadi ... Ah! Keluhku berkesah. Apa? Awal pertemuanku dengannya. Baiklah ... saya akan ceritakan. Tapi tolong tutup jendela itu ... angin yang masuk terlalu menusuk. Saya tak kuat, kesehatan saya sekarang kurang baik. Jadi mohon untuk ditutup. Nah, itu lebih baik. Terimakasih. Anda memang baik nona,


* * *

Kisah ini dimulai dari kesukaan saya menulis. Pada saat itu aku adalah seorang mahasiswa yang sangat, atau bisa dikatakan, idealis abis. Maaf bukan maksud menyombongkan ... tapi nona sendiri tahu, begitulah keadaannya. Kadang saya sendiri merasa jengah hidup seperti itu. Gie pernah mengatakan bahwa hidup seperti itu sangat menyakitkan. Memang benar! Kita harus siap untuk sengsara nona! Anda tidak percaya. Mari saya lanjutkan cerita pilu ini.

Ya ... hobi saya menulis seperti yang sudah kubilang di awal. Nona tahu, kegiatan menulis adalah kegiatan membaca dan mendengar juga. Apa yang akan kita tulis kalau kita tidak mendengar informasi atau membaca sesuatu. Orang menulis karena ada sesuatu yang ingin disampaikan. Nah pesan ini bisa didapat dengan cara membaca dan mendengar.

Nona bisa simpulkan apa yang saya maksud. Kemudian keinginan menulis ini menguat sehingga membuat saya dan sebagian teman saya di jurusan mendirikan bulletin sendiri. Ke[r]sa namanya. Apa, oh ... arti ke[r]sa. Entahlah yang menamakan adalah teman dan saya hanya mengamini. Kurang lebih artinya adalah semangat semacam itulah.

Ya ... nona. Dana sendiri, hasil patungan dari teman-teman yang perduli. Bahkan bukan dana saja yang sendiri tetapi tulisan pun dari diri sendiri. Coba nona bayangkan, kadangkala dalam beberapa penerbitan, hanya tulisan saya saja yang mengisi bulletin bukan karena bagus tetapi memang nggak ada tulisan lagi. Daripada nggak terbit mending nekad, karena kalau sistem kerjanya tidak memakai sistem deadlock maka penerbitan akan diundur terus dan itu akan menghambat daya kreativitas. Alasan lain adalah tradisi tulis menulis masih belum menjamur di kalangan teman saya.

Hubungannya dengan Kirana Maharani? Tenang nona ... tidak sabaran banget sih! Silahkan diminum dulu tehnya ... tambah? Oh tidak. Kalau perlu sesuatu bilang saja. Baiklah ... nona, lewat bulletin inilah, saya kenal dengan perempuan yang saya beri nama Kirana Maharani.

Bukan ... bukan nona, apa yang nona pikirkan sebenarnya. Begini, Kirana Maharani bukanlah nama asli. Nama aslinya? Saya sendiri tidak tahu. Saya jelaskan, saya kenal dengan “perempuan” ini lewat teman ... yang kebetulan suka membawa bulletin Ke[R]sa ke kosannya. Perempuan yang kuberi nama Kirana ini sekosan dengan teman saya itu.

Diam-diam dia juga sering membaca tulisan saya ... begitu nona. Teman saya itu bilang bahwa ada temannya yang suka sama tulisan saya. Kemudian saya berinisiatif untuk memberikan surat sebagai penghormatan karena saya merasa tersanjung. Kenapa tidak nona? Bagaimana kalau nona berada di posisi saya. Senang? Bahagia? Tentu saja.

Ternyata tulisan saya yang hanya alakadarnya, yang amburadul ternyata ada orang yang menyukai. Apa maksud nona? Secara naluriah kita akan memberikan penghargaan kepada yang menyukai atau memberikan kebaikan kepada kita. Apakah nona menyalahkan saya karena telah menulis surat kepadanya? Tidak, pada saat itu saya tidak mempunyai pikiran yang macam-macam. Bahkan dalam surat saya yang pertama saya sebutkan dengan jelas bahwa maksud surat itu adalah sarana untuk berdiskusi. Tidak ada pikiran yang lain-lain. Oh ... tidak, maafkan saya nona. Memang terkadang saya sensitif dan temperamental.

Nama Kirana Maharani itu saya tentukan ketika hendak menuliskan surat kepadanya. Kenapa? Saya tanya; Apakah nona tidak kesulitan menulis surat kepada orang yang tidak bernama. Kesulitan bukan? Makanya saya beri nama saja dia. Itu ‘kan lebih baik. Daripada misalnya kepada X, seperti tersangka korupsi saja, 'kan tidak lucu! Artinya? Jangan tanyakan itu, sebab ada sesuatu yang tidak bisa kita rasionalisasikan, hanya cukup untuk dirasakan saja.

Setelah surat pertama saya kirimkan ... surat kedua saya kirimkan ... ketiga ... keempat, baru .... Sebentar saya lupa pada surat keberapa ya dia membalas. Saya tidak tahu jelasnya kapan ... tetapi dia membalas surat saya.

Korespondensipun berjalan, tetapi kita [saya dan Kirana] lebih sering berkomunikasi lewat sms. Teknologi memang memudahkan. Kadang saya mengeluh tentang berbagi hal, tetapi masih berkutat dan seputaran idealitas kehidupan. Sampai disini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Interaksi kami berjalan dengan baik.

Hingga pada suatu ketika.

Ketika kami berbincang lewat sms, entahlah ... saya merasakan bahwa dia sedang nggak enak hatinya maka saya katakan dalam sms itu “minta maaf ... telah mengganggu”. Selang beberapa menit dari itu, Kirana menelepon saya. Dan itulah kali pertama saya mendengar suaranya. Dalam pembicaraan lewat telepon itu, saya tidak banyak bicara. Hanya menikmati dan memahami suaranya. Dan juga ternyata Kirana itu tipikal orang yang banyak bicara juga. Setidaknya itu yang dapat saya tangkap mengenai dirinya dengan hanya sebatas mendengar suaranya lewat telepon. Dan pada saat itu pula saya merasa cocok dengan dia. Saya memahami kondisi maka saya diam dan tersenyum.

Bagi saya, orang yang kadang merumitkan segala sesuatu, nona juga tahu. Tidak hanya tulisan yang bisa menggambarkan kepribadian seseorang, ternyata dengan kepekaan rasa yang sering dilatih maka lewat suara pun kita dengan mudah bisa menebak seperti apa kepribadian orang itu.

“terimakasih telah memperdengarkan suaramu” kataku padanya. Dan memang benar, pada saat itu saya sangat berterimakasih telah mendengarkan suaranya yang pada kemudian hari kejadian itu sangat saya sesali. Kenapa?

Begini nona, hari mulai bertambah larut, apakah nona membutuhkan mantel untuk menambah kehangatan. Tidak? Baiklah ... bolehkah saya lanjutkan cerita ini.


* * *

Sampai dimana tadi? Telepon ... Ah nona ... ! Setelah Kirana menelepon. Saya sangat girang dan alang kepalang senang, tetapi setelah kutelusuri diri saya ternyata ada sesuatu yang menyelusup masuk dalam diri saya. Sesuatu yang memaksa saya untuk mengambil sikap. Sesuatu yang membuat saya kadang pengap serasa hidup itu singkat, sempit dan sesak! Dalam ketersandungan, keterbelahan, ketidaksadaran saya terus menelusuri hari dan mencoba untuk mendefinisikan apa sebenarnya yang terjadi dalam diri saya.

Hingga pada akhirnya saya mendapat sedikit pencerahan dari pengalaman masa silam saya. Masa yang sudah bertahun hendak saya kubur telah bangkit dan bertutur dengan jujur... lamat-lamat saya mulai merenungi keadaanku dengannya. Dan pada satu hari saya tak kuat menahan sara yang mulai merambat. Nona tahu ... Saya tidak bisa ‘tuk menahan rasa rindu.

Ternyata rindulah yang mengila dalam diri saya. Rindu untuk mendengar lagi suaranya. Dan saya dengan sangat insyaf, itu adalah sebuah kesalahan! Mengingat masa lalu saya. Saya bernyata ini adalah suatu kesalahan dan harus segera dibereskan, kalau tidak mau segalanya bertambah runyam. Kenapa? Nona ... pikiran mempunyai hukum yaitu akal sehat dan argumentasi tetapi saya tanya apa hukumnya perasaan. Karena tidak ada hukum yang mengatur perasaan oleh karena itu kita, khsususnya, saya tidak bisa mengendalikan perasaan.

Tetapi saya tidak mau mengulangi kesalahan masa lalu ... maka saya sudah mantap untuk mengambil sikap. Apapun itu hasilnya semuanya harus ditatap.

Perubahan yang terjadi setelah kirana menelpon adalah pandangan saya terhadapnya. Ternyata Kirana Maharani bukanlah sebuah gagasan. Sekarang ia bersuara, dan tentunya suara bukan berasal dari tubuh yang tidak memiliki wajah. Dari gagasan ia berubah menjadi berbadan dan mempribadi. Kirana maharani adalah seorang peremuan nyata ... bukan maya.

Yang paling parah adalah; saya merindukannya nona. Nona gerangan bisa jelaskan nanti akhirnya ; apa namanya jika seorang lelaki merindukan seorang perempuan? Saya takut hanyut dan terbawa suasana ... Okelah, kalau saya tipe pemberani seperti lelaki pada umumnya yang bisa dengan jelas mengungkapkan rasa di depan orangnya. Tidak ada kesulitan dan tidak menjadi masalah. Tetapi tidak dengan saya nona! Saya tipikal pemalu dalam hal itu. Dan mungkin bagi saya adalah tabu. Saya jadi bingung harus berbuat apa, sedang rindu berbagi keluh, kesah dan kisah semakin menggejala ... Apa yang saya lakukan? Nona tanya itu. Tak ada.

Harus saya akui bahwa saya bisa mendapatkan partner yang saya idam-idamkan dalam sosok perempuan yang saya beri nama Kirana Maharani.

Hingga pada suatu malam ia mengirim pesan kepada saya, kemudian saya balas pesan itu bahwa saya akan menelepon kekosannya. Saya beranggapan mungkin ini kesempatan saya untuk memperbincangkannya. Mengatakan permasalahan saya, saya harus jujur bahwa saya takut. Saya takut terkena perasaan yang menjatuh-hempaskan saya selama setahun kebelakang. Akibat tidak bisa mengungkapkan rasa akhirnya saya kalah. Saya tidak ingin kehilangan Kirana sebagai teman, tetapi saya juga takut terhanyut oleh rasa dan suasana. Dan itu tidak saya pecahkan sendiri.

Pada hening itu adalah malam yang paling indah sekaligus malam yang paling menyesakkan bagi saya. Semoga nona tidak bosan mendengarkan cerita saya ... Pembicaraan diawali dengan pembicaraan filsafati, seputar permasalahan filsafat. Lamat-lamat berubah menjadi tema obrolan sehari-hari, saling mengenal satu sama lain membicarakan latar belakang masa lalu. Pada pertengahan obrolan itu ... tanpa dikomando tiba-tiba hati saya merasakan sesuatu yang aneh dengan serta merta sukmaku berkata lain sanubariku membisik takut. Akhirnya kata itu keluar dari mulut saya aku bilang "Ran ... aku takut”

Pada saat itu, obrolan mulai menukik tanpa disadari. Kubilang bahwa aku takut, ia bilang bahwa ia paham. Tapi aku mau penjelasan kepahamannya, mungkin yang ia takutkan tidak sama dengan ketakutan saya. Lantas ia bilang " kamu takut fitnah bukan?" Meski dengan bahasa yang berbeda kuanggap ia paham apa yang aku takutkan.

Lantas dengan terbata-bata kami mulai membincangkannya. Kenapa saya membicarakan perihal itu ... nona tanya itu? Saya adalah anak pada zamannya. Dan bahasa kala itu adalah ketika melihat kasus saya bisa disebutkan dengan dalam proses hubungan tanpa ikatan, hubungan tanpa status ... kenapa saya berpikiran seperti itu? Sebab saya mempunyai pengalaman yang mirip seperti itu nona.

Baiklah ... saya akan ceritakan pengalaman masa silam, yang membuat saya takut dan trauma. Saya mempunyai seorang teman perempuan. Saya tekankan disini kata TEMAN. Pertemanan kami makin akrab sehingga tak ada ruang rahasia diantara kami berdua. Dan nona tahu bagaimana pandangan orang lain kepada kami berdua, mereka menyangka bahwa kami memang menjalin hubungan sebagaimana remaja pada umumnya. Memang kami menjalin hubungan tetapi just friend!

Mulanya kami tak menghiraukan omongan orang lain, karena bagi saya, seperti Sartre bilang orang lain adalah penjara. Tetapi ternyata, perasaan tidak bisa dibohongi. Saya melupakan bahwa dengan orang lainlah kita mengenal siapa sebenarnya diri kita. Seiring dengan waktu ternyata ada perasaan lain yang bersemi dalam hati saya. Perasaan yang lain sama sekali lain dari sekedar hubungan pertemanan. Saya merasa nyaman bersamanya, kehilangan kalau tidak ada dia. Saya menginginkan hubungan yang lebih dari itu,

Pada waktu itu ... saya terus berusaha membunuh perasaan itu. Membekukannya. Saya tak menghiraukan jerit hati yang terus merintih. Perasaan itu saya peti eskan. Ketika saya mulai tidak bisa melawan hentakkan hati yang mulai menggorok leher maka saya menyerah dengan perasaan saya itu. Tetapi saya tidak bilang kepadanya. Jalan yang saya ambil adalah menjauh dari kehidupannya dan lambat laun menghilang tanpa pamit tanpa alasan dan pesan. Karena ketakukan yang menumpuk menumbuk pikir dan rasa. Ketakutan kalau teman perempuan saya tidak memiliki perasaan yang sama, dan akhirnya tertolak. Dan saya pasti sakit hati. Ketakutan lain adalah jikalau dia memang merasakan hal yang sama saya belum siap menyuntingnya ke jenjang pernikahan.

Memang ... nona, saya tahu langkah yang saya ambil itu salah dengan meninggalkannya tanpa ucapan apapun. Dan nona tahu ... ternyata teman saya itu merasakan hal yang sama. Dia hanya menunggu saya untuk menghampirinya. Bukankah dalam tradisi kita, perempuan hanya menunggu? Tetapi saya tidak tahu itu. SAYA TERLALU KERDIL UNTUK BERUSAN DENGAN SEBENARNYA CINTA. Saya bukan ksatria sebagaimana perempuan-perempuan inginkan.

Karena tidak berani mengungkapkan rasa akhirnya saya kalah dan terhenpas. Nah ... nona begitulah ketakutan yang SAYA BENAR-BENAR TAKUT terjadi pada saya dan kirana. Daripada bernasib sama dengan masa silam saya. Maka keputusan yang saya ambil adalah untuk membicarakannya dengan dia dengan Kirana. Apakah langkah sekarang saya salah?

Sebagai seorang perempuan nona ... pasti tahu apa yang dirasakan kirana pada saat itu ketika saya membicarakan hal ini. Alasan saya membicarakannya adalah karena memang saya tidak mau kehilangan Kirana sebagai seorang teman berbagi. Makanya, nona, saya tidak memaksa dia untuk memberitahukan nama aslinnya siapa, saya tidak menuntut untuk bertemu. Biarkanlah Kirana Maharani hanya sebatas gagasan. Tetapi dengan kejadian telepon itu ... ah itu yang saya sesalkan!

Lanjutnya, pembicaraan kami ditelepon membuat kesepakatan. Kirana memutuskan untuk berhenti, enough. Nona tahu... ketika dia berbicara seperti itu ada pukulan keras dalam dada saya, hentakkan kaki yang sangat hingga bisa membuat saya sekarat. Karena itu bukan yang saya harapkan... saya ingin berteman dengannya, teman untuk berbagi. Maka saya mengusulkan saran yang lain. Kita lanjutkan korespondesi, berdiskusi tetapi tanpa melibatkan perasaan.

Sulit! Memang nona saya tahu itu sulit. Mana mungkin itu bisa terjadi? Seperti kata dia "kita bermain-main dengan api" saya juga memang merasakan bermain dengan api. Tetapi dengan catatan siap kecewa dan siap bahagia. Bukan menafikan perasaan, kalaulah dalam perjalanan saya atau dia mempunyai perasaan lain, kita berdua siap menerima konsekuensinya kalau perasaan itu tertolak! Saya ajukan tawaran itu.

"Asal kau yang menjamin perasaan saya" jawab Kirana. Dan saya memberanikan diri untuk menjaminnya dengan taruhan saya tak ingin kehilangan teman seperi dia. Kesepakatan terbentuk. Pembicaraan telepon terhenti.

Selang beberapa menit, Kirana menelepon lagi. Dia tidak menerima kesepakatan itu. Saya hanya bengong tak tahu harus mendefinisikannya seperti apa ... malam itu aku merasakan gelisah yang sangat meski berusaha untuk kuat.

Terus ... tenang nona ... nona mengingatkan saya kepada dia. Minum dulu nona tehnya ... kita hirup udara malam. Udara keheningan. Ah.....

Setelah itu ... saya berjanji dalam hati bahwa dia tidak akan mati dalam gagasan. Meski dia pergi dan tidak hidup dalam jasad dan badan. Dia seperti terus ada di sampingku mendengar keluhku. Dia akan menjadi nafas kerjaku. Tinta bagi penaku. Doa bagi karyaku. Pagi harinya setelah perbincangan di telepon semalam...
Dia mengembalikan buku yang saya pinjamkan kepadanya beserta bingkisan oleh-oleh dari lampung. Yang sampai sekarang masih ada dalam lemari saya. Saya tak ada berkeinginan untuk memakannya, dengan melihat oleh-oleh itu aku merasakan dia dekat disampingku.

Begitulah nona ... kisahku dengan Kirana Maharani. Kali ini aku tidak meninggalkannya ... akulah yang ditinggalkan. Memang hidup adalah cerita orang yang ditinggalkan dan yang ditinggalkan. Kalaulah nona sempat bertemu pandang dengan dia, tolong sampaikan pesanku padanya bahwa kalau dia mau kembali aku akan terus menunggu ... banyak cerita, hikmah dan pelajaran yang menunggu dibagi dengannya.

Untuk apa nona ... saputangan ini? Oh ... Biarkan airmata ini tidak dihapus karena air mata ini bukanlah air mata kebohongan. Inilah air mata kejujuran. Terimakasih nona telah mendengarkan kesah saya ... anda mau berangkat sekarang. Kemana? Ke rumah dia ... oh iya slaam saya saja padanya. Katakan aku merindukannya, sangat.

Terimakasih nona, kapan-kapan datang lagi kan kuceritakan kisah yang lainnya.

Bandung, 23 Juli 06
1:21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar