Being Common; Anti Mainstream

Kini, yang anti-mainstream, nampaknya sudah jadi mainstream, kalau memang benar ia "anti main-stream" maka anti mainstream yg ia bawa, yg sudah jadi mainstream sekarang harusnya di kritisi, kalau tidak. Maka benarlah pepatah lama yg mengatakan, seorang anti korupsi yg berkoar-koar di pinggir jalan itu, pada dasarnya mereka cuma "gak kebagian" saja, kalau kebagian? pasti diam. Birokrasi baru, hipokrisi baru, nampaknya iya, lebih sulit bersikap sederhana di tengah kelimpahan materi, ketimbang sederhana di tengah kesulitan materi.

Dulu, orang berbondong-bondong pengen beda, being different is not easy, kini, semua orang sudah bener pada beda! Bahkan mungkin sudah sampai pada titik aneh yang terlalu aneh. Beda yang tidak bercitarasa. Beda yang di ada-adain, mungkin sudah saatnya kini, bukan being different lagi, tapi being common!

nasehatin orang mesti serius, itu mainstream, anti-mainstream, nasehatin orang itu mesti pake teknik, humor, satire, komedi, penyampaian karikaturis adalah salah satu teknik yg ampuh untuk menyampaikan pesan, biar orang itu gak kerasa sedang dinasehatin, moral menyelundup dalam hal yg banal, tapi kini, itu sudah jadi mainstream, semua orang berhenti pada humor, pada hal-hal yg konyol, bahkan menolak dan lupa mengapa ia bicara konyol. Kinilah kita lagi merayakan kekonyolan. Kekonyolan, yg mungkin ada isi, tapi kita tolak isinya, karena kayaknya lebih seru konyolnya ketimbang isi. Kita beralih pada kehidupan yg konyol nan seru. Terbekatilah.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Cerita Di Balik Orang-Orang Yang Lari Di Pagi Ini



Setelah seminggu tertunda, baru pagi ini rencana lari pagi itu terlaksana. Dan ternyata, banyak sekali orang-orang yang meluangkan waktunya untuk berolahraga pagi di gelanggang ini, diantaranya;    
Wiryawan, PNS, 35 tahun.

Lari pagi itu sangat menyehatkan. Masyarakat seharusnya membiasakan diri untuk menjaga kesehatan, salah satunya adalah dengan lari pagi. Pemerintah sendiri sudah menyediakan fasilitas dengan membangun gelanggang olahraga ini, sayangkan kalau tidak dipakai? 

Tidak setiap hari sih, hanya waktu-waktu tertentu saja, biasanya hari libur, seperti sekarang ini. Saya sekeluarga sering menghabiskan waktu di pagi hari dengan olahraga.

Andri, Karyawan Swasta, 30 tahun. 

Saya sering lari pagi, hampir tiap hari. Ehmmm, tidak.
Maaf. Mungkin dua kali sehari. Tentu saja tiap pagi, sebelum masuk kerja, saya membiasakan untuk lari. Ya, lebih fresh aja, dan untuk menjaga kesehatan tentunya.

Danuarta, Dosen Ekonomi, 27 tahun

Lari pagi ya? Selain menyehatkan olahraga ini juga murah. Anda bisa melakukannya di mana saja. Tidak perlu bayar. Di jalan, di lapangan, di gang-gang, atau di gelanggang olahraga seperti ini. Anda hanya perlu menyiapkan diri, dan lari.

Ya tentu saja, kalau anda punya sepatu, anda bisa menggunakannya. Tetapi kalau tidak, anda tidak perlu memaksakan diri untuk membeli sepatu dulu untuk bisa lari. Anda hanya perlu kaki, anda bisa lari. Jangan sangka, lari tanpa sepatu, itu lebih menyehatkan karena otot-otot kaki anda bisa langsung bersentuhan dengan tanah. Dan tentu saja, itu lebih ekonomis.

Sartreparna, Sarjana Filsafat, 23 Tahun.

Anda mungkin tidak percaya. Setelah bangun tidur, saya pasti langsung lari. Itu adalah rutinitas yang saya lakukan dua tahun belakangan ini. Hebat? Biasa saja mas. Itu semacam ritual eskaspisme. Mungkin anda kurang memahaminya, saya sederhanakan. Begini, saya adalah seorang pengangguran ketika menghadapi pagi, saya selalu stress. Karena ketika orang lain berangkat kerja, saya hanya duduk saja, minum kopi, sarapan. Mau tidur lagi, gak ngantuk.

Wawan, Mahasiswa, 20 Tahun

Kalau saya sih, lebih suka cewek-cewek yang lari nya mas. Daripada larinya sendiri. Ya kalau lari, saya suka ngekor cewek-cewek, lumayan lah cuci mata di pagi hari hehe.


Dan masih banyak lagi alasan-alasan kenapa orang-orang di gelanggang ini lari, ataupun hanya sekedar lewat

Orang Waras dalam Kereta Api (Bag 4)

Kemarin dengar ustadz di salah satu pengajian bilang kayak gini, survey di salah satu kota-- saya tidak mau menyebutkan kotanya, nanti kaya flo lagi di perkarakan--bahwa 90% perempuan di kota tersebut sudah pernah melakukan hubungan di luar nikah, ya maksudnya mereka sudah melakukan hubungan seks sebelum mereka menikah. Itu bukan hal aneh bukan? ya gak aneh lah, terlalu naif kalau informasi ini baru bagi anda. Anda hidup dimana? Ini Indonesia bung! Orang aja bisa di bakar hidup-hidup, kakek aja bisa nge seks ama cucunya, apalagi ini yang sama-sama sudah akil baligh. 

yang membuat saya sedikit berpikir adalah alasan mereka yang melakukan hubungan di luar nikah itu, kira-kira seperti ini, "kebahagiaan itu kan hak kami? kami punya hak untuk bahagia, kami punya hasrat yang harus di salurkan, kenapa kami harus meminta izin dari orang lain untuk menyalurkan hasrat kami? pasangan kami saja tidak keberatan untuk sama-sama menyalurkan hasrat birahi kami? kenapa kalian yang repot? ini sudah melanggar ham!" 

Orang Waras dalam Kereta Api (Bag 3)

Apa saya masih mengingatnya?

Tentu saja, kenangan tidak bisa lekas hilang begitu saja seperti noda kotor yang bisa di hapus oleh sabun. Apa anda masih percaya dengan perkataan menghapuskan kenangan? Tidak, itu lebay. Hal yang paling abadi hanya ada dalam kepala kita, sekalipun semua di dunia ini sudah binasa, selama gambaran di kepala anda masih ada, itu bakal kekal, tentu saja dengan syarat kepala anda masih pada tempatnya. Anda bisa mengkreasikannya lagi dalam kenyataan, dalam bentuk apapun, begitu di seterusnya. Itulah uniknya kita, manusia, takkan pernah habis-habisnya.  

Orang Waras dalam Kereta Api (Bag 2)

Jika Anda mengulangi kebohongan cukup sering, itu menjadi kebenaran. "If you repeat a lie often enough, it becomes the truth."
               
Marketing? Saya belum pernah mendengarnya. Yang saya tahu ungkapan itu muncul dari kalangan Nazi, Hitler. Oh ya? Mungkin saja. Terdengar menyedihkan memang kalau saya belum pernah mendengarnya, padahal pekerjaan di bidang itu. Akhirnya anda bertanya juga. Kenapa? Anda sepertinya terkejut. Apa penampilan saya tidak mendukung untuk pekerjaan itu?

Orang Waras dalam Kereta Api

Kita tidak tahu bagaimana cara ajal menjemput kita. Kita takkan pernah bisa tahu dalam keadaan apa nyawa meregang dari badan. Sungguh kematian adalah persoalan paling biasa seperti halnya makan, buang air besar, sikat gigi, mengisi ulang gas ketika habis, beli baterai bila jam dinding mati, beli pulsa, naik angkot dan aktivitas biasa lainnya. Namun juga memang tidak bisa, karena sekalipun setiap hari di dunia ini ada yang mati, bahkan setiap detik, kita tidak bisa menghitung jumlah pastinya. Tapi tak satupun dari mereka yang kita kenal, itu yang menjadi tidak biasa. Coba anda hitung, dari sekian teman yang anda kenal, berapa dari mereka yang sudah meninggal?

Ya. Terdengar mengerikan bukan ketika ada orang yang bertanya seperti itu, seperti mengharapkan mereka meninggal. Tapi pertanyaan saya serius, jujur ada berapa?